HPJI dan Bina Marga Bersiap Menjadi Tuan Rumah 127th REAAA Governing Council Meeting

Persiapan penyelenggaraan 127th REAAA Governing Council Meeting terus dimatangkan. Pada Oktober 2026 mendatang, Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) bersama Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum akan menjadi tuan rumah forum tertinggi organisasi jalan kawasan Asia dan Australasia tersebut di Balikpapan, Kalimantan Timur. Agenda internasional ini akan diselenggarakan secara terpadu dengan Konferensi Regional Teknik Jalan (KRTJ) ke-16, sebuah forum teknis dua tahunan yang telah menjadi wadah utama pertukaran pengetahuan dan inovasi di bidang jalan dan jembatan di Indonesia.

Penyelenggaraan bersama antara REAAA dan KRTJ-16 menjadi momentum penting yang memperlihatkan semakin kuatnya posisi Indonesia dalam percaturan teknik jalan regional. Dalam proposal resmi yang dipresentasikan kepada Dewan REAAA pada April 2026, kegiatan ini direncanakan berlangsung pada 4–8 Oktober 2026 dengan estimasi partisipasi sekitar 500 peserta yang berasal dari kalangan pemerintah, akademisi, asosiasi profesi, pelaku usaha konstruksi, konsultan, hingga industri pendukung infrastruktur dari berbagai negara anggota. Tema besar yang diusung KRTJ-16 sekaligus menjadi benang merah forum internasional tersebut adalah “Ketahanan Infrastruktur Jalan dan Jembatan terhadap Bencana dan Perubahan Iklim.” Tema ini dinilai sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi berbagai negara saat ini, ketika perubahan iklim semakin meningkatkan risiko banjir, longsor, kenaikan muka air laut, hingga gangguan terhadap jaringan transportasi strategis.

Balikpapan dipilih bukan hanya karena kesiapan infrastrukturnya, tetapi juga karena posisinya sebagai gerbang menuju Ibu Kota Nusantara (IKN). Dalam agenda yang disusun panitia, para delegasi REAAA akan memperoleh kesempatan melakukan technical visit ke kawasan IKN untuk melihat secara langsung berbagai praktik pembangunan infrastruktur yang sedang berlangsung, termasuk pendekatan pembangunan berkelanjutan yang menjadi perhatian banyak negara saat ini.

Tema besar yang diusung KRTJ-16 sekaligus menjadi benang merah forum internasional tersebut adalah “Ketahanan Infrastruktur Jalan dan Jembatan terhadap Bencana dan Perubahan Iklim.” Tema ini dinilai sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi berbagai negara saat ini, ketika perubahan iklim semakin meningkatkan risiko banjir, longsor, kenaikan muka air laut, hingga gangguan terhadap jaringan transportasi strategis.

Sebagai forum teknis terbesar HPJI pada tahun 2026, KRTJ-16 tidak hanya menghadirkan sidang makalah teknik, tetapi juga berbagai kegiatan strategis yang dirancang untuk menjawab isu-isu aktual sektor jalan dan jembatan. Panitia telah menetapkan enam kelompok topik utama makalah yang meliputi perencanaan transportasi dan manajemen lalu lintas, investasi dan pembiayaan jalan, manajemen aset dan digital construction, manajemen konstruksi jalan dan jembatan, rekayasa perkerasan dan geometrik jalan, serta rekayasa jembatan dan geoteknik. Batas ­ akhir pengumpulan makalah ditetapkan pada 3 Juli 2026, sedangkan pengumuman hasil penilaian akan dilakukan pada 3 Agustus 2026.

Menariknya, KRTJ-16 juga akan menghadirkan sejumlah forum tematik yang mencerminkan tantangan nyata sektor infrastruktur saat ini. Salah satunya adalah Lokakarya Asbuton, yang membahas pemanfaatan Aspal Buton untuk preservasi dan pembangunan jalan sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian industri aspal nasional. Forum ini akan melibatkan unsur pemerintah, industri, akademisi, hingga badan usaha jalan tol.

Selain itu, perkembangan teknologi digital akan menjadi perhatian khusus melalui Lokakarya AI dan Teknologi Informasi. Agenda ini dirancang untuk mengulas penerapan kecerdasan buatan dalam pengelolaan aset jalan, intelligent compaction, digital twin, sistem peringatan dini, hingga pemanfaatan AI untuk memprediksi penurunan kondisi jalan dan meningkatkan ketahanan infrastruktur terhadap bencana.

Topik pembiayaan juga memperoleh ruang penting melalui Seminar Inovasi Pembiayaan dan KPBU, yang akan membahas perkembangan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usa-

ha (KPBU), availability payment, kontrak berbasis kinerja, hingga strategi pembiayaan berkelanjutan untuk sektor jalan dan jembatan.

Sementara itu, isu perlindungan aset jalan dan keselamatan transportasi akan dibahas dalam Seminar Penanganan ODOL dan Angkutan Berkeselamatan. Forum ini dirancang untuk mempertemukan regulator, operator jalan tol, organisasi angkutan barang, dan pemangku kepentingan lainnya guna memperkuat upaya pengendalian kendaraan over dimension over loading (ODOL) yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama kerusakan jalan nasional.

KRTJ-16 juga akan menghadirkan Business

Matching Investor yang mempertemukan proyek, teknologi, badan usaha, investor, dan penyedia pembiayaan. Forum ini menjadi bagian dari strategi HPJI untuk mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara dunia teknik, dunia usaha, dan sektor investasi.

Di tingkat regional, posisi Indonesia dalam REAAA saat ini juga semakin strategis. Pada periode kepengurusan 2025–2029, Direktur Jenderal Bina Marga Dr. Roy Rizali Anwar menjabat sebagai Wakil Presiden REAAA, sementara Ketua Umum HPJI Dr. Ir. Hedy Rahadian tercatat sebagai anggota Governing Council yang mewakili Indonesia. Indonesia juga dipercaya mengisi posisi Honorary Treasurer-General melalui Lydwina Marchiela Wardhani.

Dengan kombinasi forum internasional REAAA dan KRTJ-16, Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah sebuah pertemuan organisasi, tetapi juga pusat diskusi strategis mengenai masa depan infrastruktur jalan dan jembatan kawasan Asia-Pa-sifik. Melalui forum ini, HPJI dan Bina Marga berharap dapat memperkuat jejaring profesional, mempercepat adopsi inovasi, serta menghasilkan rekomendasi konkret untuk membangun infrastruktur yang semakin tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim, bencana, dan kebutuhan mobilitas masa depan. WHY/Tim Konektivitas